Puasa Mutih Calon Pengantin, Adakah Dasar Syar'inya?


Assalamu'alaikum Wr Wb,

Ustadz, saya mau bertanya, apakah dalam Islam sebenarnya ada puasa mutih (hanya makan nasi putih tanpa lauk pauk atau yang bergaram) sebelum pernikahan bagi calon pengantin wanita biasanya dilaksanakan selama 3-7 hari sebelum hari H.

Setahu saya tidak ada hadits yang menyatakan itu, tetapi teman saya pernah membacanya dan dibolehkan jadi gimana dong? Syukron

Rika


Jawaban:

Assalamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulilahi Rabbil 'alamin, wash-shalatu was-salamu 'alaa Sayyidina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa shahbihihi ajma'in, wa ba'du.

Tentu saja di dalam Islam tidak dikenal istilah puasa 'mutih' seperti yang anda sebutkan. Yaitu puasanya calon pengantin perempuan beberapa saat menjelang hari pernikahannya dengan tidak makan lauk pauk atau makanan lainnya yang bergaram. Di dalam Islam tidak ada syariat yang demikian, karena memang Al-Quran maupun hadits Nabi SAW sama sekali tidak menyinggungnya.

Islam hanya mengenal satu cara puasa yaitu tidak makan atau minum apapun sejak shubuh hingga terbenam matahari. Dan waktunya adalah di bulan Ramadhan untuk puasa wajib, atau di hari-hari lain yang telah ditentukan, seperti tanggal 9 Zulhijah (hari Arafah), tiap hari Senin dan Kamis, tiap tanggal 13,14 dan 15 tiap bulan (ayyamul Biidh), berselang-seling sehari puasa dan sehari tidak (puasa Daud), tanggal 10 Muharram (hari Asyura) dan puasa-puasa sunnah lainnya.

Sedangkan praktek puasa 'mutih' itu sama sekali berbeda dengan cara puasa syariat Islam. Bukankah dalam puasa 'mutih' itu seseorang masih boleh makan nasi, minum air putih dan lainnya? Sedangkan dalam ketentuan syariat puasa, makan dan minum apapun sudah pasti membatalkan puasa.

Jadi sebenarnya istilah yang tepat untuk praktek seperti ini memang bukan puasa, tapi barangkali berpantang makan yang berminyak atau bergaram. Dan praktek ini tidak ada landasan syar'inya di dalam syariat Islam. Namun sebagai bentuk adat atau kebiasaan, juga secara prinsip dasar tidak ada larangan. Apalagi konon ada tujuannya yaitu agar pengantin wanita itu tidak terlalu berkeringat atau agar tidak beraroma yang kurang sedap.

Meski pun sebenarnya di zaman sekarang ini sudah ada pendingin ruangan dan beribu macam parfum. Sehingga secara teknis sebenarnya sudah ada jalan keluarnya. Sementara berpantang makanan tertentu justru bisa melemahkan kondisi pisik pengantin itu sendiri, seperti lemas, sesak nafas dan gejala lainnya. Padahal dia harus punya energi ekstra karena punya hajatan yang pasti menguras energi dan pikiran. Maka sebaiknya dipertimbang kembali manfaat dan madharatnya.

Wallahu A'lam Bish-shawab
Wassalamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc.


www.eramuslim.com