Hukum Cambuk Bagi Pezina


Assalamu'alaikum warrahmatullah

Pak Uztad, saya ingin bertanya sekaligus berkeluh kesah. Pada masa lampau saya pernah melakukan perbuatan keji dan termasuk dosa yang teramat besar, yaitu berzina. Sampe sekarang perbuatan itu masih menghantui saya. Insyaallah saya sudah tobat nasyuha. Saya alhamdulillah sudah merasa dekat dengan Allah sekarang. Setiap kali sholat saya bisa merasakan kedekatan denganNya. Dan juga dalam kegiatan sehari-hari lainnya. Namun bagaimanapun juga, perbuatan zina yang telah saya lakukan dimasa lalu masih mengganjal dalam hati saya. Saya tahu Allah maha pengampun dan penyayang. Jika mengingat kedekatan saya dengan Allah sekarang ini saya terkadang yakin bahwa Dia mengampuni saya. Tapi kalau ingat bahwa zina adalah perbuatan yang termasuk dosa besar dan ada hukumannya (yaitu cambuk) maka saya merasa ada yang mengganjal.

Saya ingin bertanya mengenai hukuman cambuk ini. Apakah jika sudah dihukum cambuk berarti dosa kita bisa diampuni sepenuhnya oleh Allah? Kemudian siapa yang berhak mencambuk kita? Apakah saya boleh menunjuk seorang teman dan melakukan hukuman cambuk itu dengan rahasia? Karena dalam hal ini tidak banyak orang yang tahu mengenai perbuatan zina saya. Saya tidak ingin orang tua saya tahu mengenai hal ini, karena akan menghancurkan kebanggan mereka terhadap saya. Mengingat mereka sudah tua, saya tidak ingin melukai hati mereka dengan perbuatan saya yang hina di masa lalu. Pak Uztad, saya mohon penjelasan atas kegundahan hati saya.

Wassalamu'alaikum warrahmatullah

Hamba Allah - Yogya


Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa bad.

Hukuman cambuk 100 kali atau rajam bagi pelaku zina adalah ketetapan (hudud) dari Allah SWT yang sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Hukum cambuk 100 kali bagi pelaku zina yang belum pernah menikah dan rajam (dilempari batu hingga mati) bagi pelaku zina yang sudah pernah menikah sebelumnya.

Dan pelaksanaan hukuman itu menjadi bagian rangkaian taubatnya seseorang. Artinya, belumlah lengkap taubat seorang pelaku zina manakala belum menjalani hukuman cambuk/rajam. Tentunya bila yang bersangkutan berada di dalam wilayah hukum Islam yang menerapkan hukum hudud. Namun semata-mata menjalani hukuman cambuk/rajam saja tanpa didasari dengan taubat, tidaklah akan menghilangkan dosa zina.

Tetapi perlu dipahami bahwa hukum cambuk atau rajam hanya boleh dilakukan oleh sebuah mahkamah syar`iyah yang formal dan legitimate. Artinya, berlakunya hukum itu harus diakui secara syah dan formal di dalam suatu negara, meski barangkali wujud sebuah negara itu belum 100 % berbentuk negara Islam. Dengan demikian, tindakan eksekusi cambuk atau rajam yang dilakukan oleh perorangan, kelompok pengajian, jamaah, ormas atau pesantren tertentu, tidak bisa dibenarkan dalam hukum syariah. Sebab pelaksananya haruslah seorang penguasa negara, yang kemudian dia bisa mewakilkannya kepada para hakim yang resmi diangkat oleh negara itu.

Selain itu, di dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa hanya zina yang dilakukan di wilayah hukum Islam saja-lah yang bisa diproses dan divonis sesuai hukum Islam. Bila zina dilakukan di luar wilayah hukum Islam, maka pengadilan/mahkamah syar`iyah tidak berhak melakukan proses hukum pada kasus itu, sebab terjadi di luar wilayah hukumnya.

Maka dalam kasus Anda, vonis dan eksekusi hukum cambuk atau rajam tidak mungkin dilakukan, karena Anda tinggal di Indonesia yang pemerintahnya secara resmi menolak hukum Islam, nauzu billahi min zalik. Maka yang bisa Anda lakukan hanyalah bertaubat saja kepada Allah SWT, minta ampun sejadi-jadinya dan menyesali semua perbuatan zina itu.

Dan tentunya yang paling utama adalah bertekad kuat dan serius untuk tidak mengulanginya lagi. Bila taubat nashuha seperti ini berhasil Anda lakukan, insya Allah Dia akan menerimanya dengan bahagia.

Adapun tidak terlaksananya hukum cambuk atau rajam, bukanlah salah Anda, selama Anda siap untuk menjalani hukuman. Namun karena negara ini dipimpin oleh mereka yang anti hukum Islam sehingga hukum Islam tidak bisa diterapkan, maka menjadi semacam `dosa kolektif` dari penguasa umat ini yang telah meninggalkan penerapan hukum Islam di negerinya sendiri. Terutama mereka yang punya kemampuan untuk bisa memproses berlakunya hukum Islam di negeri ini. Mereka berdosa besar karena tidak memperjuangkan penerapan hukum Islam. Yang paling besar doanya tentu saja adalah mereka yang selalu menggembar-gemborkan gerakan anti hukum Islam. Dan buat rakyat muslim pada umumnya, akan ikut berdosa bila tidak ikut mendukung gerakan penerapan hukum Islam, sebab hukumnya wajib. Sebagaimana firman Allah SWT yang teramat jelas dan terang di dalam Al-Quran.

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa : 65)

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah : 44)

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Maidah : 45)

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Maidah : 47)


Wallahu a`lam bish shawab
Wassalamu `alaikum Wr. Wb.


www.syariahonline.com