Shalat Tidak Pakai Mukena


Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya ingin menanyakan tentang shalat wanita yang tidak memakai mukena. Saya pernah melihat wanita melakukan shalat hanya dengan memakai kerudung sementara dia tidak memakai sarung tangan. Sebenarnya kita sudah mengetahui bahwa aurat wanita itu kecuali wajah dan telapak tangan, jadi bagaimana dengan sholat bagi wanita yang punggung tangannya kelihatan. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas jawaban yang ustaz berikan.

Wasssalaamu'alaikum Wr. Wb.

Shafira


Jawaban:

Assalamu 'alaikum Wr. Wb.

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah, washshalatu wassalamu 'ala Rasulillah, Waba'du.

Secara fiqih memang tidak ada keharusan bagi wanita untuk mengenakan mukena dalam shalat. Sebab intinya adalah menutup aurat ketika shalat. Dan selama aurat itu sudah tertutup, maka syarat itu sudah terpenuhi. Sedangkan dengan pakaian model apa aurat itu ditutup, syariat memberikan kebebasan.

Namun mukena itu bukan berarti harus ditinggalkan, sebab dilihat dari model dan potongannya, justru mukena itu merupakan pakaian yang paling memenuhi syarat untuk sebuah busana bagi wanita. Sebab umumnya mukena itu lebar, besar, panjang dan nyaris menutup hampir seluruh bagian tubuh wanita. apalagi umumnya berwarna putih sehingga mencerminkan kebersihannya. Sebab dengan berwarna putih, bila ada kotoran akan dengan mudah terlihat sehingga bisa segara dicuci. Meski sayangnya kita sering menjumpai mukena di beberapa masjid yang justru lusuh, dekil bahkan (maaf) bau apek. Sebab mungkin berbulan-bulan tidak dicuci.

Sedangkan masalah batas aurat wanita, memang ada sedikit perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang mengatakan bahwa tapak tangan itu bukan aurat baik bagian punggung maupun bagian dalamnya. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa yang bukan aurat hanya bagian dalam dari tapak tangan, sedangkan punggung tapak tangan masih dianggap sebagai aurat. Di sinilah titik perbedaannya sehingga mengapa ada yang mensyaratkan harus pakai mukena dan ada yang tidak. Sebab umumnya mukena itu memang bisa menutup tapak tangan, bukan hanya bagian punggunya bahkan sampai bagian dalamnya. Sedangkan bila menggunakan pendapat yang mengatakan bahwa punggung tapak tangan bukan aurat, maka tidak harus menggunakan mukena. Cukup mengenakan pakaian sehari-hari yang berlengan panjang hingga batas pergelangan.

Sebenarnya tanpa kita sadari, umumnya kita berpendapat bahwa tapak tangan baik punggung maupun bagian dalamnya bukan aurat. Sebab bila memang aurat, maka busana muslimah sehari-hari harus berbentuk mukena yang menutupi punggung tapak tangan, bukan? Padahal busana muslimah yang kita kenal umumnya tidak sampai menutup punggung tapak tangan.

Bahkan kalau kita mengacu kepada pendapat al-Hanafiyah, tapak kaki wanita pun tidak termasuk aurat karena hajat. Sehingga para wanita dari kalangan mazhab ini biasanya shalat cukup hanya menggunakan rok panjang tanpa kaus kaki. Mungkin aneh buat sebagian kita, tapi mereka punya dalil syar'i yang perlu kita hormati.

Wallahu a'lam bishshawab.
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.

Ahmad Sarwat, Lc.


eramuslim