Bolehkah Saya Memiliki Budak Perempuan untuk Digauli?


Di dalam islam dihalalkan untuk menggauli budak. Sebetulnya apa syarat-syarat seseorang untuk menjadi budak? Bolehkah kalau misalnya saya memiliki seorang budak, bila memungkinkan. Katakanlah ada seseorang perempuan yang secara rela mau jadi budak saya. Apakah saya berhak menggauli budak tersebut sebagaimana layaknya menggauli istri?

Andry


Jawaban:

Assalamu 'alaikum Wr. Wb.

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah, washshalatu wassalamu 'ala Rasulillah, Waba'du.

Hari ini tidak mungkin ada seorang wanita yang secara suka rela mau jadi budak. Sebab budak itu statusnya secara resmi adalah setengah manusia dan setengah hewan. Kondisi ini diakui oleh hukum yang berlaku di seluruh dunia saat itu di mana ditetapkan bahwa budak memang bukan manusia. Ini adalah hukum positif yang secara syah dan resmi berlaku di semua penjuru muka bumi dan diakui oleh semua pusat peradaban manusia di zaman berlakunya perbudakan.

Budak itu bukan manusia sehingga mereka memang tidak punya kemerdekaan, bisa dijual kapan saja dan ditawarkan di pasar. Budak itu tidak punya hak kepemilikan dan tidak punya hak atas dirinya sendiri. Jadi budak adalah budak. Bahkan kemaluan mereka halal untuk disetubuhi oleh tuannya.

Siapakah wanita di masa sekarang ini yang rela anda miliki dan merelakan dirinya anda jual kepada orang lain di pasar swalayan? Dipajang di etalase dan diberi bandrol plus diskonnya? Lalu datang beragam manusia dari berbagai penjuru untuk melihat-lihat, menawar harga dan membeli dirinya?

Itu adalah hal yang telah berlaku jauh sebelum agama Islam ini diturunkan. Budak wanita yang dimiliki oleh seseorang itu tidak dikawini seperti pernikahan pada umumnya. Sehingga tidak ada akad, tidak ada mahar, tidak ada wali dan tidak ada saksi. Dan tentu saja tidak ada ijab qabul. Begitu seorang budak dimiliki, maka secara hukum, dia boleh digauli oleh tuannya.

Ketika Islam diturunkan, salah satu misinya adalah menghapuskan perbudakan secara sistemtis meski dengan proses dan butuh waktu. Maka kalau hari ini ada kita sudah behasil mengentaskan manusia dari lembah perbudakan, bagaimana mungkin masih terpikir bagi seorang muslim untuk kembali ke masa lalu yang kelam sekedar untuk bisa menikmati tubuh budak?

Di masa lalu, menggauli budak meski dihalalkan tapi tidak begitu saja dilakukan oleh orang-orang terhormat seperti anda. Sebab menikahi budak hampir nyaris seperti kawin dengan hewan dari sisi status sosial. Hanya orang miskin dan kurang terpandang saja yang mau-maunya mengawini/menyetubuhi budak. Di masa lalu, menikah dengan wanita-wanita mulia dan terhormat menjadi kebanggaan bagi tiap orang dan amat berpengaruh kepada status sosial, nama baik, status sosial dan level keturunan. Kasihan sekali anak-anak anda manakala tahu ibu mereka hanyalah seorang budak. Anak anda akan dikucilkan dari pergaulan sosialnya dan jangan kaget kalau diejek teman-temannya karena ibu mereka budak.

Dan yang paling penting, perbudakan itu tidak terjadi hanya karena seorang wanita menyatakan diri siap menjadi budak bagi seseorang. Perbudakan itu adalah sebuah sistem hidup yang secara syah dan resmi diakui oleh hukum yang berlaku di sebuah negara. Tanpa adanya pengakuan dari hukum yang syah dari negara yang berdaulat, tidak ada sistem perbudakan. Yang ada adalah penzaliman, pemerkosaan atau perzinaan yang haram hukumnya.

Wallahu a'lam bishshawab.
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.

Ahmad Sarwat, Lc.


eramuslim