Pembagian Warisan Suami-Istri yang Tidak Punya Anak Kandung


Pak Ustadz, saya ingin bertanya tentang warisan yang ditinggalkan bagi orang yang tidak mempunyai anak kandung.

Seorang istri meninggalkan harta warisan, yang masih kerabat dekat adalah: seorang suami, 5 orang anak dari saudara perempuan (3 laki-laki dan 2 perempuan), 5 orang anak dari saudara laki-laki (3 laki-laki dan 1 perempuan). Karena tidak mempunyai anak, suami istri ini mempunyai anak asuh/anak pungut (perempuan) yang telah diasuhnya sejak masih kecil.

Kemudian, 6 bulan setelah itu, si suami juga meninggal dunia. Yang masih kerabat dekat suami adalah: 1 orang saudara perempuan, 1 orang anak laki-laki (dari istri yang lain) dan seorang anak angkat (perempuan) yang telah disebutkan di atas.

Semua biaya sebelum dam setelah pemakaman baik untuk istri maupun suami, ditanggung oleh cucu laki-laki dari anak pungut. Pak Ustadz, saya ingin tanyakan bagaimana cara membagi harta warisan yang ditinggalkan oleh suami istri tersebut, sehingga tidak menimbulkan fitnah dan sesuatu yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Atas jawaban dan penjelasan dari Pak Ustadz, saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Mahdi


Jawaban:

Assalamu 'alaikum Wr. Wb.

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah, washshalatu wassalamu 'ala Rasulillah, Waba'du.

Pertama-tama, harus dijelaskan dahulu tentang kedudukan warisan bagi suami istri itu. Ketahuilah bahwa masing-masing suami istri itu punya hitungan warisan yang berbeda satu dengan lainnya. Pembagian warisan mereka tidak bisa digabung dan dihitung bersama. Sebab pertanyaan anda meliputi dua orang yang berbeda waktu kematiannya sehingga harus dihitung berbeda-beda pula, meski mereka suami istri.

Marilah kita hitung dulu pembagian waris harta istri, karena dia meninggal lebih dahulu meninggalkan suaminya. Maka suaminya mendapatkan bagian warisan dari harta istri. Harta istri disini maksudnya adalah harta yang 100% mutlak milik istri, bukan harta yang dimiliki bersama. Besar harta yang diwarisi suami dari harta istrinya itu adalah 1/2 atau separuhnya.

Sisanya menjadi hak ashabah yang dalam hal ini adalah anak laki-laki dari saudara laki-laki almarhumah. Sedangkan anak perempuannya tidak mendapatkan warisan. Yang tidak mendapat warisan juga adalah anak-anak dari saudara perempuan almarhumah, mereka tidak mendapatkan warisan apa-apa, karena hubungan mereka dengan almarhum diselingi oleh wanita yaitu ibu mereka yang merupakan saudara perempuan almarhumah.

Penting untuk dicatat bahwa status anak angkat dalam syariat Islam tidak diakui sebagai ahli waris, sehingga dia tidak mendapatkan apa-apa dari harta orang tua angkat mereka. Kecuali bila para ahli waris mau merelakan sebagian hartanya untuknya sebagai zawil arham. Besarnya pun tidak ditentukan dan tidak ada keharusan secara syar'i untuk memberinya.

Sehingga sisa ashabah itu dibagi tiga sama besar. Maka masing-masing anak laki-laki dari saudara laki-laki almarhumah mendapat 1/6 dari total harta yang dibagi waris. Atau lebih detailnya tentang pembagian harta warisan alamarhumah adalah:

- Suami mendapat 1/2 = 3/6 dari total harta atau 50%
- Keponakan laki-laki dari saudara laki-laki [1] mendapat 1/6 atau 16,7%
- Keponakan laki-laki dari saudara laki-laki [2] mendapat 1/6 atau 16,7%
- Keponakan laki-laki dari saudara laki-laki [3] mendapat 1/6 atau 16,7%

Sekarang mari kita hitung warisan harta suami yang meninggal 6 bulan kemudian. Saudara perempuan almarhum seharusnya mendapatkan harta warisan, namun karena almarhum punya anak laki-laki, posisi saudara perempuan almarhum menjadi terhijab/tertutup secara total. Akibatnya, saudara perempuan almarhum sama sekali tidak mendapat harta warisan sepeserpun. Demikian juga anak angkatnya, tidak mendapat apa-apa karena memang bukan ahli waris. Sehingga anak laki-laki satu-satunya menjadi pewaris tunggal yang mendapatkan 100% atau semua total harta milik alamarhum.

Seharusnya semua biaya pemakaman dan pengurusan jenazah bukan ditanggung oleh cucu anak angkat, melainkan ditanggung oleh harta warisan itu sebelum dibagikan. Kalau sudah terpakai, maka sebelum dibagi waris, semua biaya itu harus diganti terlebih dahulu dengan harta yang akan dibagi waris. Kecuali kalau cucu anak angkat itu mengikhlaskannya.

Wallahu a'lam bishshawab.
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.

Ahmad Sarwat, Lc.


eramuslim