Konsultasi : Ibadah


Anak Jalanan = Ibnu Sabil?

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Mohon penjelasan tentang pengertian Ibn Sabil ; bagaimana di zaman Rasulullah saw dan bagaimana implementasinya untuk mesa sekarang. Lalu bagaimana dengan kedudukan anak-anak jalanan, apakah mereka termasuk Ibn Sabil sehingga berhak menerima zakat?

Wassalam

M. Sirajuddin, Parung - Bogor


Jawab:

Assalamu 'alaikum Wr. Wb.

Dalam Al Qur'an memang banyak diungkapkan ayat yang berkaitan dengan ibn sabil sebagai orang atau kelompok orang yang berhak menerima zakat seperti dalam QS 9:60 atau yang berhak menerima infak dan sedekah seperti dikemukakan dalam QS 17:26, QS 30:38, QS 2:177 dan ayat lainnya.

Ibn Sabil di zaman Rasulullah saw, sebagaimana dalam berbagai literatur juga pendapat para ulama, adalah orang-orang yang kehabisan bekal ketika mencari nafkah, ketika bersilaturahmi, atau ketika mencari ilmu. Bahkan untuk pencari ilmu, jika kehabisan bekal disamping disebut sebagai ibn sabil, dapat juga disebut sebagai sabilillah (di jalan Allah). Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits, sabda Rasulullah saw, "Barangsiapa yang keluar (pergi) dalam mencari ilmu, maka termasuk sabilillah, sehingga ia kembali." (HR. Turmudzi).

Sebagian ulama kontemporer, seperti Syeikh Rasyid Ridha, berpendapat bahwa untuk saat kini, bisa juga dimasukkan kedalam kelompok ibn sabil orang yang meminta suaka ke negeri lain karena di negerinya tidak bisa melaksanakan ajaran Islam. Masuk pula kelompok ini anak-anak jalanan dan anak buangan yang sama sekali tidak memiliki keluarga yang mau bertanggung jawab terhadap kehidupannya. Tentu saja dalam menangani kasus anak jalanan ini yang paling tepat adalah melibatkan pemerintah, bukan diserahkan semata kepada individu masyarakat.

Sebagian ulama mazhab Hambali, berpendapat bahwa juga termasuk kelompok ibn sabil ini para tuna wisma yang menjadi pengemis, yangsama sekali tidak memiliki keterampilan bekerja sehingga tak memiliki penghasilan (lihat Hukum Zakat, Yusuf Qardhaqi, 662-663).


www.pesantren.net