Konsultasi : Ibadah

Adakah Zakat untuk Hibah dan Harta Warisan?



Ass. wr. wb.,

Yth. Bapak Ustadz, Saya ingin menanyakan bebebapa hal sehubungan dengan harta.

1. Bila seseorang mendapatkan harta warisan yang telah sampai nisab, kapankah jatuh tempo pembayaran zakatnya, dan berapa besarnya?

2. Bila seseorang mendapat harta hibah, dari orangtuanya misalnya, dan jumlahnya mencapai nisab, maka kapankah jatuh tempo pembayaran zakatnya dan berapa besarnya?

3. Bila harta hibah tersebut segera dipakai untuk kebutuhan-kebutuhan primer, membeli rumah dan pergi haji misalnya. Dan harta itu hanya tersisa sedikit (tak sampai nisab), maka apa bagaimana hukumnya.

Atas penjelasan Bapak Ustadz, saya mengucapkan terimakasih. jazakallahu khoiron katsiro

Dini


Jawaban:


Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu 'ala Rasulillah, Waba'du.

Sebenarnya sejak dahulu ketika membahas bab zakat, para ulama tidak mencantumkan tentang kewajiban bayar zakat bagi para penerima harta warisan. Sehingga kita tidak menemukan adanya keharusan kepada para ahli waris untuk membayar zakat dari harta yang diterimanya. Lepas dari apakah hartanya itu mencapai nishab atau tidak.

Kalau pun ada pemikiran demikian, agaknya baru mulai ramai dibicarakan belakangan ini saja sebagai sebuah ijtihad dalam hukum zakat. Termasuk di dalamnya ijtihad tentang zakat profesi, zakat investasi dan zakat-zakat lainnya yang di dalam kitab-kitab fiqih klasik tidak pernah tercantum secara baku.

Sehingga ulama sekelas Dr. Wahbah Az-Zuhaili, yang kita kenal sebagai penyusun kitab Al-Fiqhul Islami Wa Adilatuhu setebal 11 jilid itu pun berpendapat bahwa zakat warisan dan sejenisnya itu tidak ada dalam fiqih Islam. Pendapat beliau ini memang agaknya mewakili kalangan ulama yang berbeda paham dengan kalangan yang mengembangkan hukum zakat semacam Dr. Yusuf Al-Qaradawi dan lainnya.

Ketika kami tanyakan langsung kepada Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam kesempatan ziarah terakhirnya ke Indonesia, bahwa harta yang wajib dizakatkan itu sudah ditentukan jenis dan ketentuannya di dalam nash Al-Quran dan Sunnah. Sehingga tidak boleh dikembangkan atau diperluas maknanya sampai ke jenis-jenis harta lainnya. Sebab kewajiban zakat itu selain bersifat muamalah juga bersifat mahdhah. Harta yang wajib dizakati itu terbatas pada 5 macam saja, sebagaimana beliau tuliskan di dalam kitabnya Al-Fiqhul Al-Islami Wa Adillatuhu:

Pertama: harta berupa uang, yaitu emas dan perak. Termasuk di masa kini adalah mata uang yang digunakan untuk membayar transaksi jual beli.

Kedua: harta berupa tambang (ma'din) dan rikaz.

Ketiga: harta berupa perdagangan.

Keempat: harta berupa hasil tanaman seperti kurma dan anggur.

Kelima: hewan ternak, yaitu unta, sapi dan kambing.

Pendapat beliau ini tentu saja tidak sepenuhnya disetujui oleh kalangan ulama lainnya yang mendukung adanya pengembangan hukum zakat. Sehingga mereka memasukkan juga kewajiban zakat bagi seseorang menerima harta secara tiba-tiba, sepertri mendapatkan warisan, hadiah dan sebagainya. Mereka seringkali mengqiyaskannya dengan rikaz atau zakat temuan. Dari sanalah kemudian ijtihad tentang adanya zakat warisan berkembang. Tentu saja aturannya pun semata-mata ijithad, apakah harus memenuhi nishab ataukah tidak. Masing-masing ulama datang dengan pendapatnya.

Bila Anda ingin banyak melakukan amal kebajikan di dunia ini dan memperbanyak tabungan di akhirat, tidak ada salahnya mengeluarkan zakat warisan dengan dasar ijtihad ini. Namun karena ada juga pendapat yang tidak mewajibkannya, maka anda bebas memilih di antara dua pilihan. Sebab keduanya sama-sama punya dalil dan hujjah yang cukup kuat.

Wallahu a'lam bishshawab.
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.

Ahmad Sarwat, Lc.

eramuslim.com

     kritik dan saran : key_key@rikpamail atau jampang@cicadas